Dilema Etika, tantangan Pemimpin dalam pengambilan Keputusan yang Berbasis Nilai-nilai Kebajikan
Sebagai seorang pemimpin tentu selalu dihadapkan pada sebuah keadaan yang harus mengambil keputusan. Dalam pengambilan keputusan pemimpin dapat menggunakan berbagai pertimbangan yang telah dianalisa dampak dan manfaatnya. Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka dapat digunakan Pemimpin dalam pengambilan Keputusan. Patrap Triloka adalah sebuah konsep pendidikan yang digagas oleh Suwardi Suryaningrat (alias Ki Hadjar Dewantara) selaku pendiri organisasi pergerakan nasional Indonesia yaitu Taman Siswa. Konsep pendidikan ini digagas Suwardi Suryaningrat atas dasar kajiannya terhadap ilmu pendidikan (pedagogi) yang diperoleh dari tokoh pendidikan ternama mancanegara, yaitu Maria Montessori dari Italia dan Rabidranath Tagore dari India. Konsep ini menjadi prinsip dasar para guru dalam melakukan pendidikan di Taman Siswa. Terdapat tiga unsur penting dan terkenal dalam Patrap Triloka, yaitu: (1) Ing ngarsa sung tulada, yang artinya "yang di depan memberi teladan", (2) Ing madya mangun karsa yang berarti, "yang di tengah membangun kemauan"), dan (3) Tut wuri handayani yang mempunyai arti" dari belakang mendukung". Pemimpin dapat mengambil keputusan dengan bijak menyesuaikan keberadaan fungsinya sebagai tauladan, yang dapat membangun asa, dan terus memberikan dukungan dan dorongan kepada yang dipimpinnya.
Sebagai seorang pemimpin tentu mempunyai berbagai kompetensi. Guru sebagai pemimpin pembelajaran. Jika melihat UU RI No.14 Tahun 2005 kompetensi guru meliputi 4 kompetensi yaitu kompetensi Kepribadian, kompetensi Pedagogik, kompetensi Sosial, dan kompetensi professional. Sedangkan Kepala Sekolah menurut Permendikbud No.13 Tahun 2007 mempunyai 5 kompetensi yaitu kompetensi Kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi Kewirausahaan, kompetensi supervisi, dan kompetensi social. Kompetensi Kepribadian seorang pemimpin sangat berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang diambil dalam pengambilan keputusan. Pemimpin dengan kompetensi kepribadian yang baik akan mengambil keputusun dengan baik dan bijak.
Materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran Saya sangat bermanfaat terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah Saya ambil. Bagaimana saya harus mengambil keputusan jika dihadapkan pada dilema etika ataupun bujukan moral. Pengambilan keputusan tersebut telah efektif, terutama terkait dengan 3 kriteria pokok dalam pengambilan keputusan yaitu berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan dan siap dengan segala konsekuensinya. Lalu 4 paradigma pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian keputusan yang telah diambil. Tentunya ini bukan keputusan yang mudah karena kita akan menyadari bahwa setiap pengambilan keputusan akan merefleksikan integritas sekolah tersebut, nilai-nilai apa yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan keputusan-keputusan yang diambil kelak akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah dan lingkungan sekitarnya.
Guru sebagai tenaga profesional mempunyai 4 kompetensi dasar yang harus dikuasai. Salah satunya adalah kompetensi Sosial yang didalamnya memuat aspek sosial emosional yang sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan khususnya dilema etika. Guru yang mempunyai kompotensi sosial emosional yang baik tentu akan menghasilkan keputusan yang dapat mendasarkan pada nilai-nilai kebajikan dengan mengutamakan keburuhan murid dan tentunya siap dengan segala konsekuensi dari keputusan tersebut.
Dengan disajikan kasus-kasus terkait dilema etika maka guru mempunyai gambaran yang lebih kontekstual tentang masalah yang melibatkan dilema etika atau bujukan moral serta dapat membedakannya. Lalu selanjutnya guru diharapkan mampu mengambil keputusan dalam menyelesaikan kasus tesebut.
Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Karena keputusan yang dibuat akan dilaksanakan semua pihak yang terkait dalam sebuah ekosistem. Untuk itu keputusan yang dibuat harus memberikan manfaat menyangkut semua stakeholders yang terkait.
Tantangan-tantangan di lingkungan Saya untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika diantaranya adalah mengubah mindset dari tim untuk dapat melaksankan keputusan yang dibuat. Kebiasaan yang sudah membudaya tentu tidak mudah untuk menerima perubahan dari cara pengambilan keputusan terkait dilema etika. Tentu hal ini erta kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Saya. Karena Saya sadari anggota suatu komunitas pasti mempunyai kebragaman pola dan laur berpikir sehingga tidak mudah menerima perubahan yang ada butuh waktu dalam berproses. Pengambilan keputusan yang kita ambil ini akan berpengaruh dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita karena akan berdampak pada keputusan pemilihan strategi, model, metode, media, dan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan guru. Akhirnya dengan mempelajari modul ini maka akan berpengaruh terhadap keputusan pembelajaran yang tepat untuk menajamkan potensi murid kita yang berbeda-beda dan penuh keunikan.
Guru adalah seorang pemimpin pembelajaran. Karenanya seorang pemimpin pembelajaran tentu akan mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Hal ini tentunya akan menjadi salah satu motivasi guru untuk terus mengupgrade kompetensinya untuk dapat menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang dapat menumbuh kembangkan minat, dan motivasi untuk murid belajar.
Kesimpulan akhir yang dapat Saya tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya adalah bahwa guru sebagai pemimpin pembelajaran perlu untuk mengupgrade kompetensinya dalam hal pengambilan keputusan yang berkaitan dengan dilema etika dengan tetap mengedepankan 3 prinsip pengambilan keputusan, dengan menghadapkan pada 4 paradigma pengambilan keputusan dan 9 langkah pengamilan dan pengujian keputusan yang telah diambil. Selain itu guru juga perlu meningkatkan kompetensi sosial emosionalnya agar dapat melaksanakan tugasnya dengan nyaman dan terkendali. Guru juga perlu melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi untuk memenuhi kebutuhan belajar murid-muridnya.
Dari modul ini saya belajar mengidentifikasi kasus yang merupakan dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika adalah situasi dimana kita dihadapkan pada membuat keputusan antara benar dan benar, sedangkan bujukan moral adalah situasi dimana seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. 4 paradigma pengambilan keputusan yaitu 1. Individu lawan kelompok (individual vs community) 2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term, 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yaitu: 1) Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan. 2) Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. 3) Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini. 4) Pengujian benar atau salah (a. Uji Legal, b. Uji Regulasi/Standar Profesional, c. Uji Intuisi, d. Uji Publikasi, e. Uji Panutan/Idola) 5) Pengujian Paradigma Benar lawan Benar. 6) Melakukan Prinsip Resolusi. 7) Investigasi Opsi Trilema. 8) Buat Keputusan. 9) Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.. Prinsip Resolusi Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai? Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Ada hal-hal yang menurut Saya di luar dugaan yaitu bahwa kegiatan pengambilan keputusan adalah suatu keterampilan, semakin sering kita melakukannya maka semakin terlatih, fokus, dan tepat sasaran. Sesulit apapun keputusan yang harus diambil untuk permasalahan yang sama-sama benar, sebagai seorang pemimpin.
Sebelum mempelajari modul ini, Saya pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema. Bedanya dengan apa yang Saya pelajari di modul ini adalah analisa dan tahapan dalam pengujian dan pengambilan keputusan
Dampak mempelajari konsep ini buat Saya adalah perubahan yang terjadi pada cara Saya dalam mengambil keputusan. Sebelumnya, Saya mengambil keputusan berdasarkan pada intuisi, pengalaman, dan segala informasi yang ada terkait keputusan yang diambil, intinya Saya dapat memaksimalkan manfaat dan meminimalisasi dampak buruk pengambilan keputusan. Sesudah mengikuti pembelajaran modul ini maka perlu menganalisa kasus apakah termasuk dilema etika atau bujukan moral. Menggolongkan dalam 4 paradigma dan 3 prinsip penyelesaian dilema, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil
Penting bagi Saya mempelajari topik modul ini, karena sebagai seorang individu dan sebagai seorang pemimpin tentu akan selalu dihadapkan pada situasi pengambilan keputusan yang tepat, baik, dan berdampak positif bagi banyak orang.
Semoga Bermanfaat dan Terima Kasih
Sri Retna Prasilirum Samyamaji, S.Pd.
Guru Matematika SMPN 1 Sukosewu
Calon Guru Penggerak Angkatan 5
Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timut
COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK STRATEGI MENGEMBANGKAN POTENSI COACHEE
A. Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar
Dalam modul 2.3 ini saya belajar tentang Coaching untuk Supervisi Akademik. Supervisi akademik dilakukan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid dan untuk mengembangkan kompetensi diri dalam setiap pendidik di sekolah. Pemimpin sekolah yang dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi diri dan orang lain dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang diawali dengan paradigma berpikir yang memberdayakan, hal ini mutlak diperlukan agar pengembangan diri dapat berjalan secara berkelanjutan dan terarah. Salah satu pendekatan yang memberdayakan adalah coaching.
Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Sedangkan Whitmore (2003) mendefinisikan coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai“…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.”
Elemen-elemen penting dari coaching yang
dapat diambil dari beberapa definisi coaching yang telah
disajikan adalah:
a.
Coaching
sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada
hasil dan sistematis, sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk
memaksimalkan kinerjanya, Coaching merupakan proses membantu seseorang untuk
belajar daripada mengajarinya. Sebagai bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk
memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses
yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.
b.
coach: orang yang
menghantarkan, memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup,
pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee
c.
Coachee: penerima manfaat, kegiatan dalam proses coaching
d. community of practice: sebuah kelompok yang terbentuk dengan
tujuan berlatih dan mempraktikan materi pelatihan untuk
pengembangan bersama
Sebagai guru, saya pernah menerapkan prinsip-prinsip coaching tersebut di sekolah saya
baik kepada murid ataupun rekan sejawat saya. Salah satu contoh: ketika
menghantarkan murid dalam panitia pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS
Sedangkan kepada rekan sejawat ketika penyusunan modul Proyek Penguatan Profil
Pelajar Pancasila (P5) hingga refleksi pelaksanaan, menyusun rencana tindak
lanjut untuk kegiatan selanjutnya.
Coaching merupakan proses membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya.coach adalah motivator yang mendukung tujuan klien. Seorang coach percaya bahwa solusi ada pada setiap orang, jadi seorang coach tidak akan memberikan ilmu/solusi tertentu tapi mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali sehingga seseorang (coachee) bisa menemukan solusinya sendiri. Biasanya berbasis hubungan one-on-one di mana coach membantu klien untuk fokus dan mencapai tujuan-tujuannya lebih cepat dari pada klien berusaha sendirian. Coach adalah orang yang ahli dalam memfasilitasi pencapaian tujuan atau proses perkembangan diri klien, namun dia tidak perlu ahli benar dalam topik yang di-coach-nya. Coach biasanya membantu klien dengan menyediakan tools dan hal-hal yang dapat memotivasi dan membantu pencapaian tujuan lebih efektif dan maksimal. Pengalaman saya menjadi coach saat menjadi koordinator Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), karena hal ini merupakan hal baru bagi kami semuanya, tapi yang membedakan adalah saya mendapat kesempatan untuk mengikuti sosialisasi, workshop, pendampingan tentang kurikulum merdeka dan P5.
Mentoring atau
pendampingan sebagai suatu proses dimana seorang teman, guru, pelindung, atau
pembimbing yang bijak dan penolong menggunakan pengetahuan dan pengalamannya
untuk membantu seseorang dalam mengatasi kesulitan dan mencegah bahaya,
memfasilitasi perkembangan, mendorong pilihan yang bijak dan membantu mentee untuk
membuat perubahan. Mentoring merupakan
Metode pengembangan dimana seseorang akan mengajarkan berbagai tips trik,
pengalaman, metode dan cara-cara sukses sesuai dengan pengalamannya. Seorang
mentor adalah orang yang sukses dibidangnya dan nantinya dia akan menularkan
ilmunya kepada kliennya. Jadi tugas seorang mentor adalah mendampingi seseorang
(mentee). Seorang mentor harus lebih expert dari menteenya. Pengalaman saya
menjadi mentor ketika ada mahasiswa yang melakukan pengambilan data dalam
penelitian untuk skripsi mereka. Saya mendampingi mereka dalam pembuatan soal
lengkap dengan perangkat soal dan pengujian validas dan reliabel soal serta
analisis butir soal dan analisis hasil ulangan.
Konseling atau penyuluhan adalah proses
pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor/pembimbing) kepada individu difokuskan pada
pertumbuhan pribadi dan penyesuaian diri yang
mengalami sesuatu masalah dan pengambilan keputusan (disebut konseli) yang
bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien dan merubah sikap
dan tingkah lakunya konsell. Pengalaman saya menjadi konselor di sekolah ketika
membantu siswa untuk menyelesaikan masalahnya agar tidak menjadi korban
bullying di sekolah ataupun di rumah.
Fasilitasi
sebagai sebuah proses dimana seseorang yang dapat diterima oleh seluruh anggota
kelompok, secara substantif berdiri netral, dan tidak punya otoritas mengambil
kebijakan, melakukan intervensi untuk membantu kelompok memperbaiki cara-cara
mengidentifikasi dan menyelesaikan berbagai masalah, serta membuat keputusan,
agar bisa meningkatkan efektivitas kelompok itu. Pengalaman saya menjadi
fasilitator adalah ketika mendiseminasikan tentang pemanfaatan fasilitas Google
for Education untuk pembelajaran dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja
secara daring di masa Pandemi Covid-19.
Training merupakan
suatu usaha yang terencana untuk memfasilitasi pembelajaran tentang pekerjaan
yang berkaitan dengan pengetahuan, keahlian dan perilaku kepada audience dengan kata lain Training adalah proses memberikan suatu transfer knowledge
berupa ilmu tertentu ke audience.
Pengalaman saya menjadi trainer di sekolah ketikaTraining
Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa kepada pengurus OSIS yang baru terpilih. Pada
kegiatan ini saya menjadi trainer bagimana menjadi pemimpin yang ideal dalam
sebuah organisasi.
Pada saat praktik coaching dengan
sesama CGP saya merasa senang karena mendapatkan ilmu baru bagaimana strategi
pengembangan diri dalam proses coaching. Saya benar-benar belajar bagaimana
kehadiran penuh (presence) saat proses coaching, saya juga belajar menjadi
pendengar aktif dengan RASA
(Receive/Terima, Apreciate/Apresiasi, Summarize/Merangkum, Ask/Tanya) dan Saya
belajar bagaimana memberikan pertanyaan yang berbobot yang dapat menggali potensi coachee agar meningkat dalam
mencari solusi permasalahan yang dihadapi.
B. Analisis untuk
implementasi dalam konteks CGP
Setelah mempelajari modul 2.3 ini Saya berharap dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang hadir dalam benak Saya yaitu:
1. Bagaimana coaching
dapat berhasil dengan baik?
2. Kompetensi apa yang
perlu dimiliki coach saat proses coaching?
3. Ketrampilan apa
yang perlu dimiliki Coach dalam proses Coaching agar lebih maksimal?
Refleksi Diri saat
latihan Praktik Coaching
Yang sudah berjalan baik selama
percakapan adalah Coach
sudah menunjukkan presence (kehadiran penuh), pendengar aktif dan mengajukan
pertanyaan berbobot untuk menggali permasalahan, dan informasi tentang
penyelesaian yang memungkinkan untuk dapat dilakukan oleh coachee. Yang masih perlu
diperbaiki/ditingkatkan
adalah belajar lagi tentang bagaimana mengajukan
pertanyaan berbobot yang dapat
menggali potensi coachee dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Untuk
tetap kondisi presence (kehadiran penuh) sebelum dan saat melakukan coaching Saya menanamkan pada diri tentang
kesempatan kita dapat membantu coachee untuk menemukan solusi dari permasalahan
yang mereka hadapi, menuliskan
hal-hal penting yang menjadi penekanan masalah, perasaan, ataupun solusi yang
disampaikan coachee, membangun kemitraan coach dan
coachee sehingga terbangun chemistri untuk dapat meringankan dan membantu
coachee menyelesaikan masalah ataupun bahan untuk coaching. Yang Saya lakukan untuk
memperbaiki/meningkatkannya
adalah terus belajar meningkatkan kemampuan Coach terutama
menahan diri untuk banyak bicara, mengesampingkan agenda pribadi, bahkan
penilaian kita tehadap coachee.
Berikut
umpan
balik dari coachee Saya: Kehadiran
Penuh/Presence sudah sangat baik,mendngar aktif juga sudah ber RASA (Receive,
Apreciate, Summarize, dan Ask). Perlu ditingkatkan lagi pertanyaan yang
berbobot.
Selanjutnya
Pertanyaan
untuk coachee yang Saya Buat diantaranya
adalah:
·
Apa yang Bapak/Ibu rasakan saat coaching?
·
Apa Tujuan
yang Bapak/Ibu ingingkan dalam coaching ini?
·
Permasalahan/hal apa yang
ingin disampaikan dalam coaching
ini?
·
Bagaimana
Kriteria keberhasilan yang diinginkan Bapak/Ibu?
·
Jika
Bapak/Ibu menilai standar kerja yang sudah terlaksana pada skala 1-10, berada
di levlberapakahposisiBapak/Ibu sekarang?
·
Dan
ingin meingkat samapai level berapa?
·
Memastikan hal-hal yang
menjadi fokus dalam proses coaching
·
Bagaimana
Rencana Aksi yang dapat dan akan dilakukan Bapak/Ibu agar bisa meningkatkan
level keberhasilan kerja?
·
Kapan
Bapak/Ibu akan melaksanakan rencana aksi
yang sudah disusun?
Alahadulillah, setelah praktik
coaching pada ruang kolaborasi menunjukkan kemajuan kompetensi coach, hal ini
terbukti saat Saya dalam kelompok melakukan proses Coaching pada Demonstrasi
Kontekstual.
C. Membuat keterhubungan
Refleksi Saya dalam memunculkan koneksi dari pembelajarannya
dengan poin-poin berikut:
1.
Pengalaman masa lalu.
Sebelum
belajar tentang Coaching, ketika melakukan supervisi akademik supervisor bisa
memiliki banyak peran sebagai mentor, fasilitator, trainer, dan konselor. Sehingga
potensi coachee untuk menggali potensi diri dalam menyelesaikan masalah yang
dihadapi belum tampak.
2. Penerapan di masa mendatang.
Selanjutnya
Saya akan banyak berperan sebagai coach agar lebih tergali potensi coachee
dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
3. Konsep
atau praktik baik yang dilakukan dari modul lain yang telah dipelajari adalah
pembelajaran berdiferensiasi dan ketrampilan sosial emosional sangat berkaitan
dengan proses coaching dalam supervisi akademik
4.
Informasi yang didapat dari orang atau
sumber lain di luar bahan ajar PGP adalah dari Media online, praktik baik
instruktur, fasilitator, Pengajar Praktik, serta praktik baik rekan guru sekantor ataupun dalam
komunitas praktisi yaitu MGMP Matematika Kabupaten Bojonegoro.
Terima
Kasih dan Semoga Bermanfaat
Oleh:
Sri Retna Prasilirum Samyamaji
Guru
Matematika SMP Negeri 1 Sukosewu
Kabupaten
Bojonegoro Provinsi Jawa Timur
(Calon
Guru Penggerak Angkatan Ke-5)
Koneksi Antar Materi Modul 1.4 Budaya Positif
Saya menjadi lebih percaya diri untuk terus melakukan aksi nyata untuk menyebarkan virus kebajikan, menciptakan budaya positif baik di rumah, di sekolah, dan dimana saja diantaranya: berdoa sebelum melakukan kegiatan, membudayakan 5S (senyum, salam, sapa, sopan dan santun), Membiasakah Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan peduli lingkungan serta alam sekitar, berusaha melaksanakan tugas, kewajiban dan amanah dengan ikhlas, semangat, dan penuh tanggung jawab.
Saya juga selalu berusaha berbaik sangka (husnudzon) dalam menghadapi kenyataan, masalah, dan tantangan dalam keseharian, hal ini selaras dengan posisi kontrol saya sebagai manager dan menerapkan disiplin positif dalam menangani murid yang bermasalah atau melakukan pelanggaran yang dapat memperluas dampak dari setiap kegiatan yang saya lakukan.
Hal ini terbukti dari banyaknya tantangan yang terselesaikan dalam berbagai event baik di sekolah, komunitas pendidikan dan Gerakan pramuka. Di sekolah selain sebagai guru, saya mendapat tugas tambahan sebagai Koordinator P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila), Tim Komite Pembelajaran, Tim inti dalam Tim Pengembang Kurikulum Operasional Sekolah, Pembina Pramuka, dan menjadi Ketua Gugus Depan Putri yang berpangkalan di sekolah saya. Dalam Komunitas Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika Kabupaten Bojonegoro saya terpilih mendapatkan amanah sebagai wakil Ketua. Selanjutnya dalam komunitas Pramuka selain disekolah Saya menjadi Andalan Ranting Bidang Gugus depan dan Andalan Cabang Bidang Gugus depan. Serta kegiatan sosial lainnya di masyarakat.
Saya juga berkolaborasi dengan murid untuk membangun kesepakatan kelas yang berorientasi pada murid untuk mencapai tujuan pendidikan dengan berpedoman pada nilai-nilai kebajikan universal yang kita yakini bersama. Selain itu saya juga berusaha untuk berbagi pengalaman baik (best practice) kepada keluarga, rekan sejawat, teman sekantor ataupun komunitas pendidikan yang saya ikuti tentang bagaimana membudayakan disiplin positif pada murid, anak, ataupun anggota komunitas, bagaimana saya menerapkan disiplin dengan kasih sayang kepada murid dan anak.
Tak segan-segan saya memberikan penghargaan kepada murid baik secara verbal, gestur tubuh, ataupun lainnya, kepada murid yang telah menegakkan disiplin positif mematuhi kesepakatan kelas yang memuat nilai-nilai kebajikan yang kita yakini bersama sebagai bentuk apresiasi/penguatan karakter bahwa mereka sudah melakukan hal benar dan mendapatkan apresiasi positif dari guru agar dapat terus melakukan kebajikan. Bagi murid yang melakukan pelanggaran maka saya biasanya mengkondisikan agar mereka berinisiatif melakukan kebaikan untuk mengimbangi pelanggaran yang telah mereka lakukan.
Meski demikian saya sadar bahwa kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Jadi, sekuat dan sebaik apapun usaha yang saya lakukan pasti jauh dari sempurna. Untuk itu, saya berusaha untuk terus belajar, membuka hati dan pikiran menjadi pemelajar sejati, meningkatkan kompetensi diri sebagai pribadi dan pendidik yang dapat berperan dan memberikan kebermanfaatan lebih banyak kepada murid, teman sejawat, orang tua, dan masyarakat.
Hal baru yang saya pelajari dari modul 1.4 ini adalah segitiga restitusi. Setelah Saya pelajari dan memahaminya saya praktikan di kelas untuk membantu murid menemukan alternatif solusi dari permasalahan yang mereka hadapi. Pada umumnya murid yang melakukan pelanggaran, disebabkan mereka ingin memenuhi kebutuhan dasar manusia yang belum tuntas..
Disiplin positif merupakan unsur utama dalam mewujudkan budaya positif yang ada di sekolah kita, Ki Hajar Dewandara menyatakan bahwa untuk mencapai murid yang merdeka, syarat utamanya adalah disiplin yang kuat, maksudnya disiplin diri dari motivasi internal yang kuat, jika tidak, maka kita memerlukan pihak lain untuk mendisiplinkan kita (motivasi eksternal). Merdeka itu artinya: tidak hanya terlepas dari perintah; akan tetapi juga cakap untuk memerintah diri sendiri. Orang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-hilai kebajikan universal. .
Nilai-nilai kebajikan universal berarti nilai-nilai kebajikan yang disepakati bersama, berisi sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Melalui serangkaian riset dan berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer. Posisi kontrol terbaik guru pada posisi Manajer, posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilahkan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.
Semua orang senantiasa berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dengan berbagai cara. Bila mereka tidak bisa mendapatkan kebutuhannya dengan cara yang positif, mereka bisa melanggar peraturan atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebajikan. Lima kebutuhan dasar manusia yaitu bertahan hidup (survival), kebutuhan untuk diterima (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan/penguasaan (power).
Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan tertulis tanpa makna. Adapun nilai-nilai kebajikan yang diterima secara universal lepas dari latar belakang budaya, bahasa, suku bangsa, maupun agama berupa hal-hal seperti keadilan, kehormatan, peduli, integritas, kejujuran, pelayanan, keamanan, kesabaran, tanggung jawab, mandiri, berprinsip, keselamatan, kesehatan, dan masih banyak lagi nilai-nilai kebajikan universal.
Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka dengan karakter yang lebih kuat (Gossen: 2004). Segitiga Restitusi merupakan tahapan untuk memudahkan para guru dan orang tua dalam melakukan proses untuk menyiapkan murid/anaknya untuk melakukan restitusi. Posisi kontrol terbaik guru adalah sebagai manager karena membantu murid menguatkan motivasi internal untuk melakukan disiplin positif pada diri mereka. Guru bersama murid menemukan solusi dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi. Kesepakatan kelas yang memuat nilai-nilai kebajikan yang universal, perlu dibuat dengan melibatkan murid agar meningkatkan motivasi internal mereka dalam menciptakan budaya positif. Dalam proses membantu murid menemukan solusi dari permasalahan yang mereka hadapi, guru perlu melakukan restitusi dengan tahapan segitiga restitusi sebagi berikut:
1. Menstabilkan identitas, bertujuan untuk mengubah identitas murid dari orang yang gagal menjadi orang yang sukses;
2. Validasi tindakan yang salah, bertujuan memenuhi kebutuhan dasar murid. Dalam teori kontrol menyatakah bahwa setiap tindakan pasti ada maksud/tujuannya;
3. Menanyakan keyakinan. Menurut teori kontrol bahwa untuk membangun budaya positif perlu motivasi internal agar lebih kuat. Pada tahapan ini, guru membimbing murid agar kembali pada kesepakatan kelas yang telah disepakati.
Sampai saat ini Banyak hal menarik dan diluar dugaan yang telah saya alami, terutama ketika dan setelah menerapkan segitiga restitusi. Diantaranya, banyak perubahan positif yang ditunjukkan murid, misalnya mereka menjadi lebih ramah, bahagia, tidak mengulangi kesalahan yang pernah mereka perbuat. Bahkan, mereka menjadi lebih terbuka, akrab dan percaya diri dalam kesehariannya. Saya sering trenyuh ketika mendengar masalah yang mereka hadapi. Ternyata benar, ketika murid melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan universal, pada dasarnya mereka sedang memenuhi kebutuhan dasarnya. Murid butuh bantuan guru untuk bisa membimbing mereka menguraikan masalah, membangkitkan mereka dari perasaan gagal menjadi sesuatu yang manusiawi dan menemukan solusi dari permasalahan yang mereka hadapi.serta mereka menjadi lebih berprestasi sesuai karakteristiknya.
Banyak perubahan yang terjadi dalam pola pikir saya setelah mempelajari materi pada modul 1.4 diantaranya: membangun budaya positif di sekolah membutuhkan kerja ikhlas, kerja cerdas dan kerja keras oleh seluruh guru, kepala sekolah, murid dan warga sekolah. Bahwa saya pemegang kontrol pada diri saya sendiri, saya tidak bisa mengontrol orang lain tanpa seijin orang yang bersangkutan. Untuk mendisiplinkan diri perlu disusun langkah-langkah strategis. Diantaranya, guru sebagai tauladan bagi muridnya untuk membudayakan disiplin positif, guru perlu gerak lebih cepat meskipun dari hal-hal yang sederhana dan mudah.
Perlu motivasi internal agar dapat terbentuk budaya disiplin positif yang berkelanjutan dan menguatkan karakter murid. Salah satu kebutuhan manusia yang mendasar adalah disayangi, dihargai, dan diterima. Penghargaan perlu diberikan secara proporsional agar menguatkan karakter murid dalam melaksanakan budaya positif. Meminimalisasi pemberian hukuman bila perlu ditiadakan, karena pada dasarnya murid yang melakukan kesalahan sedang berproses, belajar bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
Pengalaman saya dalam membangun budaya positif di kelas adalah membuat kesepakatan kelas pada awal tahun pelajaran. Langkah-langkah penyusunan kesepakatan kelas adalah:
1. Saya memfasilitasi siswa murid menuliskan hal-hal yang diharapkan dan hal-hal yang tidak diinginkan dalam pembelajaran di kertas yang berbeda.
2. Saya memfasilitasi murid membacakan hasil pemikiran yang telah mereka tulis dan mengelompokkannya sesuai isi dari hasil pemikiran mereka
3. Saya berkolaborasi dengan murid untuk menyusun kesepakatan kelas berdasarkan hasil pemikiran murid dengan acuan: dari, untuk dan oleh murid, menggunakan kalimat positif.
4. Murid menulis ulang kesepakatan kelas yang telah diyakini nilai kebajikannya
Pengalaman lainnya adalah menerapkan disiplin positif, misalnya religius, budaya 5S, PHBS (Perilaku hidup bersih dan sehat), peduli lingkungan dan alam sekitar, teori kontrol, motivasi, hukuman, penghargaan, baik di kelas ataupun disekolah. Posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, dan segitiga restitusi. Tidak semua rencana berjalan dengan mulus, banyak hal-hal baru yang saya temui ketika menerapkan disiplin positif ada dukungan, hambatan dan tantangan lainnya. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah SWT semua masalah ada solusi, semua hambatan dan tantangan dapat teratasi.
Berbagai rasa yang saya alami ketika menerapkan budaya positif di kelas ataupun disekolah, ada sedih, kesal, kecewa, prihatin, senang, dan bahagia. Sedih dan prihatin ketika mendengar masalah yang dialami murid, kecewa, kesal apabila ada guru ataupun orang tua yang mengedepankan egonya dalam menghadapi masalah yang dihadapi murid. Senang dan bahagia ketika dapat membantu murid menemukan solusi dari masalah yang mereka hadapi, ketika mereka bisa tersenyum kembali, saat mereka dapat menguatkan karakter positif mereka, dan ketika dapat meraih prestasi sesuai dengan karakteristiknya.
Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi control guru, posisi yang paling sering saya pakai adalah pemantau, manajer, dan pembuat rasa bersalah. dan perasaan Anda saat itu adalah sedih, kesal, prihatin, senang dan bahagia Setelah mempelajari modul ini, posisi yang saya pakai sebagai manajer, jika tidak memunginkan maka saya akan mengambil posisi sebagai pemantau. Perasaan saya sekarang lebih senang dan bahagia karena dapat memberikan manfaat lebih banyak kepada orang lain khususnya untuk murid. Perbedaannya adalah sekarang saya lebih banyak mengambil peran sebagai manager dalam memposisikan kontrol saya sebagai guru.
Sebelum mempelajari modul ini, Saya pernah menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid yaitu ketika mendapati murid saya membawa rokok di dalam tasnya saat ke sekolah. Tahap yang Saya praktikkan adalah menstabilkan identitasnya, validasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan. Saya mempraktikannya dimulai tahap 1 menstabilkan identitas dengan, menanyakan bagaimana ceritanya sehingga ada rokok didalam tasnya. Setelah mendengarkan ceritanya dengan seksama lalu saya menvalidasi tindakan yang salah dengan menanyakan bahwa adakah manusia yang sempurna di dunia ini? Lalu saya menyakan perihal orang tua dan keluarganya. Ternyata, dia anak yatim sejak usia 4 tahun. Dia merasa kurang perhatian dan kasih sayang Ibu dan Ayah tirinya yang bekerja di luar kota. Selama ini dia tinggal bersama kakek dan neneknya. Selanjutnya saya menanyakan keyakinan yang tertuang dalam kesepakatan kelasnya. serta membimbing murid untuk melihat bagaimana kehidupan anak-anak seumuran dia yang hidupnya lebih susah dan kurang beruntung. Saya mengajak murid untuk menjadi orang yang pandai mensyukuri nikmat Allah SWT dan berdamai dengan kondisi yang ada. Alhamdulillah sekarang dia menjadi lebih baik, percaya diri dan lebih berdamai dan menerima keadaan.
Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, hal-hal lain yang menurut Saya penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah adalah Sikap religius yang mendasari guru, murid dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya baik kepada Tuhannya dan manusia di sekitarnya.
Selanjutnya in syaa Alloh, saya akan melakukan aksi nyata modul 1.4 Budaya Positif. Agar lebih fokus dalam kegiatan aksi nyata, maka saya sampaikan rancangan tindakan untuk aksi nyata sebagai berikut:
Demikian kesimpulan dan refleksi saya tentang Budaya Positif.
Terima kasih, semoga bermanfaat.
Salam sehat dan bahagia selalu
Penulis: Sri Retna Prasilirum Samyamaji, S.Pd. Guru di SMPN 1 Sukosewu Kecamatan Sukosewu Kabupaten Bojonegoro ( Calon Guru Penggerak Angkatan ke-5).
Refleksi 4P Menuju Pembelajaran Memerdekakan Manusia
Tak terasa hampir satu purnama saya mengikuti Diklat Calon Guru Penggerak. Setelah saya menjalani pembelajaran dari Modul 1.1 hingga Modul 1.2 ini, berikut adalah hal yang menjadi pembelajaran bagi saya (model refleksi 4P):
1. Peristiwa: Momen yang paling penting atau menantang atau mencerahkan bagi saya dalam proses pembelajaran Modul 1.1 hingga Modul 1.2 adalah saya merasa tersadar bahwa selama ini sebagai guru saya telah menuntut anak untuk memahami semua materi pelajaran yang telah saya ajarkan. Saya sempat merasa bersalah, berdosa apabila murid saya mendapatkan nilai dibawah KKM, saya sudah berusaha merefleksi pembelajaran yang telah saya lakukan sehingga saya pun berinovasi dalam penyediaan media, alat dan peraga pembelajaran. Selain itu saya juga berinovasi dalam memanfaatkan metode, model, strategi pembelajaran yang variatif. Meski demikian tetap saja saya merasa bersalah dan berdosa ketika ada murid saya yang belum memahami materi dan nilainya masih di bawah KKM. Saya tahu bahwa murid saya memiliki keunikan, gaya belajar, kesiapan belajar yang beragam. Tapi ketika melihat KKM, Ujian Nasional, prestasi belajar dan dampak di masyarakat, lagi-lagi saya harus bijak dalam menghadapi dilema ini.
Kaitan antara Modul 1.1 dan 1.2 yang saya fahami adalah pendidikan bertujuan memerdekakan manusia agar selamat dan bahagia. Seharusnya guru/pendidik menuntun murid sesuai kodrat, kebutuhan dan perkembangan zamannya. Dalam pengajaran seharusnya guru menguatkan nilai-nilai dan perannya dalam menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, menyenangkan dan kondusif bagi murid untuk menebalkan lakunya, menggali dan menajamkan potensi diri sesuai dengan kodrat, gaya belajar, kebutuhan, dan perkembangan zamannya. Selain itu, guru juga harus menularkan budaya positif kepada rekan guru, praktisi pendidikan, orang tua/wali, dan masyarakat agar terbangun kebudayaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
2. Perasaan: Saat momen itu terjadi saya merasa seperti bagaikan seteguk air di tengah terik dan panas matahari di padang pasir. Luar biasa... Benar-benar sesuai kebutuhan dan menjadi solusi atas keresahan hati seorang guru.
3. Pembelajaran: Sebelum momen tersebut terjadi saya berpikir bahwa saya masih belum berhasil mengantarkan semua murid saya dalam memaksimalkan potensi mereka. Sekarang saya berpikir bahwa saya perlu memberikan kemerdekaan kepada murid saya untuk berproses menebalkan lakunya sesuai kodrat keadaan (kodrat alam dan kodrat zaman), gaya belajar, karakter, kebutuhan dan perkembangan zaman mereka sendiri. Sebagai guru saya perlu menguatkan nilai-nilai yang sudah saya miliki yaitu berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif menjadi lebih baik dan maksimal. Agar dapat menjalankan peran saya sebagai pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi pendidikan, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru dan mewujudkan kepemimpinan murid.
4. Penerapan ke depan (Rencana): Selanjutnya saya akan melakukan kegiatan pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak diantaranya: melakukan pembelajaran berdiferensiasi baik dalam konten, proses dan produk. Hal ini sebagai upaya saya untuk memerdekakan murid dalam menebalkan lakunya mengacu pada profil pelajar Pancasila sesuai kodrat, kebutuhan, dan perkembangan zamannya. Reflektif terhadap berbagai kegiatan yang telah dilakukan, Berkolaborasi dengan Kepala Sekolah, rekan guru, orang tua/wali murid, dan masyarakat dalam membangun budaya positif yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan. Senantiasa berinovasi dalam berbagai kegiatan yang selanjutnya berbagi best practice (pengalaman terbaik) kepada rekan guru, komunitas praktisi, dan masyarakat. Agar menjadi sejarah dalam hidup saya maka akan saya publikasikan baik secara digital melalui media sosial atau media cetak.
Demikian ulasan saya menjalani pembelajaran dari Modul 1.1 hingga Modul 1.2 ini, yang menjadi pembelajaran bagi saya dengan model refleksi 4P (Peristiwa, perasaan, pembelajaran, dan penerapan ke depan).
Terima Kasih, Semoga Bermanfaat.
Salam sehat dan bahagia selalu
Penulis: Sri Retna Prasilirum Samyamaji, S.Pd. Guru di SMPN 1 Sukosewu Kecamatan Sukosewu Kabupaten Bojonegoro
(Calon Guru Penggerak Angkatan ke-5).
Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) tentang pendidikan dan pengajaran
Pernahkah Anda tiba-tiba terpikirkan soal pada materi pelajaran. Lalu Anda berpikir apakah penyelesaian soal tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari? Atau hanya pengetahuan saja, tidak ada faedahnya dalam kehidupan nyata. Nah, kali ini mari Kita refleksikan pembelajaran di kelas ataupun sekolah saat ini terhadap filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Sebelumnya mari kita kenali lebih dalam sosok keren ini. Ki Hajar Dewantara terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat di lingkungan keraton Paku Alaman Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Beliau dikenal sebagai aktivis pergerakan kemerdekaan, dan pelopor pendidikan di Indonesia. Karena jasa-jasanya beliau dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Pendidikan dan Pengajaran merupakah hal yang saling terkait. Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara (KHD) pendidikan dan pengajaran merupakan usaha atau ikhtiar manusia dalam mempersiapkan dan menyediakan segala kebutuhan dan kepentingan hidupnya. Baik kebutuhan dan kepentingan pribadinya dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan berbudaya dalam arti seluas-luasnya. Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala alami sesuai kodrat yang ada pada manusia mulai masa anak hingga dewasa, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidikan harus memerdekakan manusia untuk dapat bertumbuh secara utuh agar hidup selamat dan bahagia.
Ki Hajar Dewantara mengibaratkan Pendidik sebagai Petani atau Tukang Kebun yang memiliki beragam benih. Benih-benih ini akan tumbuh subur apabila dirawat oleh petani sesuai dengan kodratnya. Petani harus tahu dan terus belajar agar benih yang dimiliki dapat tumbuh secara optimal. Petani hanya merawat benih-benih tersebut sesuai kodratnya. Tidak dapat disamaratakan. Seorang pendidik dihadapkan pada siswa yang beragam dan penuh keunikan. Beragam dalam pengetahuan, ketrampilan, karakter, gaya belajar, latar belakang sosial, ekonomi dan budayanya. Tugas pendidik menuntun mereka agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai keberagaman yang mereka miliki.
Ki Hajar Dewantara juga mengumpakan guru sebagai pamong. Pamong memberikan kebebasan kepada anak untuk tumbuh dan berkembang dengan arahan, tuntunan agar anak menemukan kemerdekaannya dalam belajar, tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya ataupun orang lain. Selain itu pendidikan harus berorientasi kepada anak, berpusat pada siswa.
Pendidikan bersifat dinamis, selalu berubah sesuai perkembangan zaman. Ada tiga azaz perubahan yang biasa dikenal dengan azaz Trikon yaitu Kontinuitas, Konvergensi, dan Konsentris. Kontinuitas artinya berkelanjutan secara terus menerus. Apapun yang kita dapatkan hari ini adalah hasil belajar kita sejak lahir hingga kemarin. Dan hari ini akan menjadi masa lalu untuk esok. Pendidikan akan berlangsung secara berkelanjutan dan terus menerus. Pendidikan sepanjang hayat. Kedua, Konvergensi. Bahwa kita belajar seharusnya berasal dari berbagai sumber ilmu. Kita harus berani keluar dari zona nyaman kita untuk terus belajar untuk mencapai keselamatan dan kebahagian dalam hidup. Dan yang ketiga adalah Konsentris, meskipun kita telah banyak belajar dari berbagai sumber ilmu tapi dalam pemanfaatannya kita harus menyesuaikan dengan konteks, sosial, kultural budaya lelulur kita. Pendidikan harus melestarikan kearifan budaya lokal daerah.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara ini relevan dengan pendidikan di Indonesia saat ini. Apalagi saat ini pemerintah mempersiapkan kurikulum merdeka yang lebih menekankan pada upaya menggali dan mengoptimalkan kompetensi siswa dan guru pada khususnya dan warga sekolah pada umumnya. Jadi lebih mengutamakan kompetensi (berorientasi kepada siswa) daripada konten atau materi pembelajaran. Pendidikan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan, keselamatan dan kebahagiaan siswa (well being) sesuai kodrat tentunya dengan menyesuaikan perkembangan zaman saat ini.
Di sekolah kami saat ini menggunakan Kurikulum 2013 yang bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Pengembangan karakter terus dibudayakan dalam sekolah kami yaitu nilai Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social dan tanggung jawab. Pengembangan karakter ini teraplikasi dalam berbagai kegiatan pembelajaran dan ekstra kurikuler.
Refleksi:
Sebagai guru saya terus berupaya untuk memerdekakan siswa dalam pembelajaran. Hal ini saya lakukan dengan terus meningkatkan kompetensi sehingga pembelajaran yang dilakukan bermanfaat, menyenangkan, menarik, menantang (meningkatkan rasa ingin tahu siswa), dan membahagiakan siswa. Salah satunya dengan mengemas pembelajaran yang tidak monoton dan bervariasi, misalnya adanya ice breaking yang berkaitan dengan materi pembelajaran, memberikan motivasi dengan memberikan gambaran manfaat dari materi pelajaran dalam kehidupan kontekstual, metode pembelajaran dan penilaian yang variatif dan bermanfaat, serta mengapresiasi kegiatan siswa dengan memberikan penguatan dan refleksi di akhir kegiatan serta tindak lanjut pada kegiatan pembelajaran selanjutnya.
Sebenarnya siswa juga menginginkan keberhasilan dan kebahagian dalam pembelajaran. Mereka juga telah berupaya untuk mewujudkannya tentunya sesuai dengan pemahaman, kemampuan, dan kondisi mereka. Jadi ketika siswa melakukan pelanggaran, guru tidak serta menghukum atau memberi sanksi, tetapi mengajak bicara/berdiskusi, mengklarifikasi apa yang mereka lakukan, menyadarkan siswa bahwa yang telah dia lakukan adalah pelanggaran yang memberikan dampak buruk bagi diri mereka, orang lain, dan lingkungan. Lalu menggiring mereka untuk menemukan ide ataupun gagasan apa yang seharusnya dilakukan. Jadi membiasakan siswa untuk merefleksi apa yang sudah mereka kerjakan dan merancang tindak lanjut langkah berikutnya. Pada prinsipnya guru harus terus belajar dari mana saja, dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja untuk meningkatkan kompetensi dan kepekaannya dalam memberikan layanan terbaik pada masyarakat secara umun dan siswa pada khususnya. Guru adalah Pembelajar sejati.
Demikian kesimpulan dan refleksi saya tentang Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Terima kasih, semoga bermanfaat.
Salam sehat dan bahagia selalu
Penulis: Sri Retna Prasilirum Samyamaji, S.Pd. Guru di SMPN 1 Sukosewu Kecamatan Sukosewu Kabupaten Bojonegoro ( Calon Guru Penggerak Angkatan ke-5).
Dilema Etika, tantangan Pemimpin dalam pengambilan Keputusan yang Berbasis Nilai-nilai Kebajikan
Sebagai seorang pemimpin tentu selalu dihadapkan pada sebuah keadaan yang harus mengambil keputusan. Dalam pengambilan keputusan pemimpin...



